Inneke Koesherawati

Agustus 6, 2008

Inneke lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara. Kedua orangtuanya berasal dari Purworejo, Jawa Tengah. Dalam darah Inneke mengalir keturunan Belanda dari pihak ayahnya. Inne, demikian panggilan akrabnya, mengawali karirnya dengan mengikuti berbagai lomba di Jakarta. Kesuksesannya bermula saat dirinya mengikuti ajang GADIS Sampul 1990 dan berhasil meraih predikat Juara Berbakat. Inne pun akhirnya memasuki sekolah model milik peragawati senior, Okky Asokawati, OQ Mo-delling. Hal ini dilakukannya agar mempunyai dasar yang kuat untuk terjun dalam dunia modeling.

Nasib berkata lain, sejak diajak temannya untuk menjadi figuran dalam film “Lupus 4”, Inne pun beralih haluan ingin menekuni dunia seni peran sepenuhnya. Debut film-nya adalah “Diskotik DJ” (1990), kemudian berlanjut dengan “Gadis Metropolis” (1991), “Roda-roda Asmara di Sirkuit Sentul” (1994), dan “Pergaulan Metropolis II” (1995), serta aktingnya di beberapa film Warkop DKI.

Setelah memutuskan berjilbab pada tahun 2001, aktingnya pun berganti di area religius. Seperti “Padamu Aku Bersimpuh” (2001), Mutiara Hati (2005), dan Jalan Takwa (2005). Walau telah berjilbab, Inne tetap laris, bahkan dirinya menyabet penghargaan sebagai Pembawa Acara Terpuji versi Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2005. Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara “Penyerahan Anugerah Syiar Ramadhan 1426 H”. Inne pernah menjadi presenter acara “Sahur Bersama” di SCTV, “Kesaksian” di Lativi dan memandu acara menjelang sahur di RCTI (2004).

Inne sebetulnya pernah mendirikan perusahaan film, PT. Gamal Golden Entertainment. Inne menjadi Direktur Utama. Perusahaannya pernah melahirkan dua buah film berjudul “Bias-Bias Obsesi” dan “Bila Esok Tiba” yang diperankan aktor senior seperti Alex Komang, dan Rudi Salam.

Inne juga merambah dunia musik tanah air dengan menjadi produser grup band Uno. Tahun 2007 Inne juga menjadi ikon saluran televisi berlangganan dengan nuansa Islami, Astro Oasis.

Putri Hijau

Agustus 6, 2008

NAMA Putri Hijau, barangkali tidak pernah dilupakan oleh masyarakat Melayu dan Karo.Terutama warga dari keluarga Kesultanan Deli, karena nama Putri Hijau dianggap suatu peristiwa yang tetap ada dan bukan dongeng. Namun, sejauh ini sejarah atau lagenda Putri Hijau tenggelam sehingga perlu dilestarikan kembali. Pertanyaannya sekarang, apakah mungkin hasil penelitian dari benteng Putri Hijau dan tempat pemandiannya di Dusun I, Desa Delitua Kampung, Kec. Namorambe, Kab.Deli Serdang, itu bisa menghapus dongeng tentang Putri Hijau.

Sejarah Putri Hijau dimulai dengan keinginan Raja Aceh mempersunting Wanita cantik yang ada di Deli. Namun, karena adanya penolakan sehingga timbul peperangan.Saat itulah Putri Hijau, yang hendak dibawa ke Aceh setelah Kerajaan Aru Baru takluk di tangan pasukan Kerajaan Aceh, dihadang seekor naga yang diyakini jelmaan dari abangnya Mambang Diazid. Keberadaan Putri Hijau sejak saat itu hingga kini misterius, namun ada versi menyebut dia sampai sekarang berada di lautan. Cerita tentang kecantikan Putri Hijau tidak berbeda dalam dua versi yang berkembang. Konon, karena cantiknya sampai-sampai Raja dari Kerajaan Aceh yang tidak terungkap jelas namanya tergiur. Tetapi, Putri Hijau menolak lamaran itu.

Raja Aceh merasa tersinggung dan terhina sehingga mencari pasal lain untuk menyerang Kerajaan Aru, dan akhirnya putri tunggal Kerjaan Aru itu takluk. Dalam versi itu juga disebutkan bahwa Putri Hijau punya dua saudara laklaki, yaitu Mambang Diazid yang menjelma jadi naga dan Mambang Khayali yang menjelma jadi Meriam Puntung. Penemuan benteng Putri Hijau di Desa Delitua Kampung, Kec. Namorambe, Kab. Deliserdang, atau sekitar 10 Km dari Kota Medan pada 1970-an semakin menguatkan keyakinan bahwa Putri Hijau memang ada. Bila dilakukan penelitian seksama untuk itu, hasil penelitian para sejarawan lokal ataupun asing terhadap keberadaan benteng Putri Hijau bersama tempat pemandian yang dikenal dengan Pancuran Gading Pemandian Putri Hijau di kawasan yang sama, juga akan membuka tabir baru tentang Putri Hijau dalam versi lain.

Kenapa Putri Hijau membangun benteng di kawasan Namorambe. Jawabnya mungkin sederhana saja, yakni untuk melindungi kerajaan dari serangan pasukan Kerajaan Aceh, atau pasukan musuh yang hendak menaklukan Kerajaan Aru itu. Namun, dahsyatnya penyerangan yang dilancarkan pihak dari Kerajaan Aceh waktu itu, akhirnya Putri Hijau takluk, dan dia melarikan diri ke Johor, Malaysia, dan menikah di sana. Diperkirakan sekitar tahun 1612, dia kembali ke Aru yang kemudian terkenal dengan nama Karo, sedangkan Aru sendiri lenyap dari peredaran.

Dan, tidak terungkap jelas, kenapa nama Aru hilang, apakah dikarenakan kekalahan dari Kerajaan Aceh itu, yang tidak memperbolehkan lagi menggunakan nama itu, atau ada semacam komitmen bersyarat dengan pihak Aceh yang membolehkan. Putri Hijau pulang ke daerahnya tanpa membawa nama Aru. Juga tidak terungkap pasti bagaimana keadaan Putri Hijau setelah kembali ke Karo, apakah tetap mengadakan perlawanan dengan pasukan “Iskandar Muda” dari Aceh itu, atau bagaimana, karena ada keyakinan kawasan yang menjadi benteng pertahanan Putri Hijau sempat dibumihanguskan sekitar 1860 oleh musuhnya.

“Ini suatu benteng pertahanan yang cukup kuat pada masa itu,” kata Edmund Edwards Mekinnon, sejarawan asal Skolandia, Inggris, ketika mengadakan kunjungan ke lokasi Benteng dan Pemandian Putri Hijau beberapa hari lalu bersama Konsul Amerika Serikat Sean B.Stein dan Dr.Ichwan Azhari MS, ketua Pusat Study Sejarah dan ilmu Sosial Unimed Medan, serta Ir.Suhardi Hartono dari Badan Warisan Sumut, Eri Sudewo dan Wahyu Utomo dari Badan Arkeologi Medan.

Waspada yang turut dalam rombongan itu melihat, benteng sepanjang 3-4 Km persegi dengan ke dalaman parit kanal antara 4-7 meter, yang di salah satu sisi ditanami pohon bambu, benar-benar terabaikan dan terlupakan selama inI. Memang, kata Edward, cerita Putri Hijau dalam dua versi itu sama-sama sependapat jika pembuatan benteng itu bertujuan untuk membendung serangan musuh, terutama dari Kerajaan Aceh. Sebagai ahli sejarah yang merangkap arkeolog, Edward ataupun Ichwan mengaku belum mengadakan penelitian mengenai keberadaan benteng Putri Hijau bersama tempat pemandiannya “Pancuran Gading Pemandian Putri Hijau” yang kini sudah terawat bagus karena banyak pengunjung berdatangan yang dikaitkan untuk suatu hajad tertentu.

Bukti peninggalan sejarah tentang keberadaan Putri Hijau di Dusun I, Desa Delitua Kampung cukup banyak. Selain Benteng dan pemandian Putri Hijau, Baik Edwards maupun Konsul AS Sean B.Stein berhasil menemukan berbagai pecahan porselin yang diperkirakan berasal dari China di masa Dinasti Ming. Namun dikarenakan adanya larangan ekspor barang China waktu itu ke negara-negara asing, akhirnya digantikan tembikar asal Myanmar dan Vietnam. “Sayapun yakin penduduk di kampung ini semasa Putri Hijau berkuasa sudah mampu membikin barang-barang pecah belah sendiri yang terbuat dari tembikar sebagai dorongan kebutuhan akibat terhentinya barang-barang dari China,” kata Edwards sambil menunjukkan pecahan porselin dan tembikar yang akan dijadikan bukti sejarah dari pemukiman dari kawasan benteng Putri Hijau.

Ditraktor
Selama tiga jam mengadakan penjelajahan di sepanjang benteng Putri Hijau, Waspada melihat warisan bersejarah ini sudah mulai dirusak oleh kalangan pengembang, karena di lokasi itu akan dibangun perumahan. “Sangat mengagetkan warisan sejarah bangsa yang cukup tinggi nilainya mesti lenyap gara-gara pembangunan perumahan,” kata Sean B.Stein. Sebagai pejabat asing yang sudah begitu akrab dengan alam Indonesia, khususnya Sumatera Utara, Sean menyayangkan sikap pihak pengembang yang tidak punya hati dalam melindungi warisan sejarah.

“Putri Hijau entah berapa lama membangun benteng ini, namun kita di era sekarang begitu gampang merusak dan malah menghancurkannya. Saya akan mencoba menemui Bupati Deliserdang, Pak Amri Tambunan, untuk menceritakan bahwa benteng Putri Hijau yang berada di wilayah pemerintahannya, kini terancam punah,” kata Sean. Dia tidak setuju kalau suatu pembangunan dengan cara merusak warisan sejarah, dengan alasan untuk peningkatan ekonomi rakyat.

Kendati bukan sebagai dosen ataupun guru di sekolah, Konsul AS itu mengingatkan pentingnya diajarkan pemahaman sejarah di sekolah-sekolah atau di perguruan tinggi. Mana mungkin orang tahu dan paham tentang arti sebuah bangunan atau warisan bersejarah seperti halnya benteng Putri Hijau kalau tidak ada yang mengingatkan atau menerangkan hal itu.

“Kita perlu melestarikan warisan bersejarah itu dengan berbagai cara, termasuk memberitahu masyarakat kenapa bangunan atau tempat itu dibangun, dan siapa yang membangun dulunya, dan kira-kira apa manfaatnya bagi generasi mendatang,” katanya dengan mencontohkan beberapa bangunan bersejarah di Amerika Serikat yang tadinya akan dimusnahkan habis untuk diganti dengan bangunan moderen, ternyata tetap dirawat sehingga akhirnya kawasan itu menjadi objek wisata paling disukai banyak wisatawan dari berbagai negara.

Walau terbilang orang yang bukan berwenang memberi keputusan, Sean menyatakan bersedia melowongkan waktunya untuk mensosialisasikan pentingnya melestarikan gedung-gedung atau tempat-tempat bersejarah. Malah dia menawarkan untuk mengadakan study banding ke Penang, Malaysia dengan sasaran bangunan-bangunan bersejarah. Dia juga tertarik kalau situs-situs bersejarah di Sumatera Barat juga menjadi sasaran kunjungan, termasuk menelusuri warisan sejarah Malin Kundang.

Hello world!

Agustus 6, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!